Dimuat di Surabaya Post, Sabtu, 6 Maret 2010
”Ambil semua pakaian, kalau sudah kunci pintunya,” lelaki itu mengucapkan kalimat baru saja dengan nada layu tanpa menatap biji mata perempuan yang disuruhnya.
Perempuan perang masuk ke kamar tidak tergopoh. Membuka almari kayu mereka. Pakaian tidak banyak sekali. Namun cukup kerepotan apabila dibawa seluruh. Maka disaring seperlunya saja.
Masing-masing empat pasang pakaiannya dan milik suaminya. Serta beberapa pasang pakaian dalam. Ke semua itu dibungkus dalam ija krong (kain sarung) kotak-kotak merah.
Barangkali bila kondisi telah kondusif, kelak mereka kembali.
Lalu Perempuan perang menangkap langkah-langkah ketakutan di luar. Pasti kaki itu bergerak sangat tergesa. Seolah harimau di belakang tengah mengintai dengan liur menerkam.
Sempat diambil tas pandan yang dahulu dianyam susah, yang tersembul di bawah pakaian. Dimasukkan lipstik, bedak rodeka, trika (bedak deodorant). Yang ke semua kosmetik murahan itu dibelinya di hari peukan ( Hari pasar ramai-ramai.)
Di luar, lari-lari ketakutan semakin jelas terasa. Kata ”bagah dan bagah” (cepat dan cepat) terlontar-lontar. Mulut anak kecil, entah paham sebuah ketakutan, kontan menangis.
”Lama sekali, nanti ketinggalan jauh dengan orang gampong,”
Perempuan perang melongok ke ruang tamu. Asap rokok suaminya tidak sabaran mengepul-ngepul. Lagi-lagi ia mendengar suara suaminya seperti pisau berkarat. Dingin tidak mendesak.
Bukan tidak ingin menyakiti. Tapi menurut mata batin perempuan perang, begitu itu malah lebih perih.
Angin malam memaksa masuk lewat rongga jendela yang tidak disekat apa-apa. Menyapu bibir gelisah perempuan perang. Seiring itu nyamuk berdesing-desing.
Lantas ia buang nafas dengan resahnya. Ia memilih menyentuhkan badan bawahnya ke kasur yang tidak berseprei. Bola mata mengamati nur lampu teplok yang melekat di triplek kamar mereka.
Takutkah perempuan perang dengan suara tapak kaki cemas di luar sana?
Tidak sekali-sekali. Perempuan itu, lebih ketakutan dengan suara dingin tak mendesak suaminya. Dengan suara lelaki itu yang tak menyapanya ’dik’ lagi sekarang.
Ketika mendadak beralih ke perutnya yang mulai buncit, cahaya mata perempuan perang tak berkedip. Antara sejenak ia menghela-hela sarat kesal.
”Cepatlah... Gampong sudah senyap ini.”
Lima hari lalu selentingan ia tangkap kabar jikalau gampong (kampung) mereka disilang merah tentara pemerintah. Banyak kaum pemberontak hilir-mudik di kampung mereka.
Tentu saja perempuan perang tahu siapa-siapa saja tokoh yang ingin memisahkan diri dari kesatuan negara. Bang Saballah, Bang Him dan beberapa pemuda turut serta.
Seperti lazim orang kampung, perempuan perang akan menjawab tidak tahu meski didesak aparat. Bukan musabab mendukung pemberontak itu. Tapi entahlah. Sepertinya menggeleng atau kata ”tidak tahu” adalah jawaban tepat nan bijaksana.
Dan malam ini selentingan itu jadi kenyataan. Akibat itu gampong harus disenyapkan dari penduduk. Andai tidak, Malaikat Izrail akan leluasa memangkas nafas tentu saja.
Dua belas menit kemudian---Setelah sebelumnya sempat mencium kembang jeumpa di sumur tanah samping rumah—kembang jeumpa yang begitu disukainya, perempuan perang bersama suaminya sudah di jalanan rumput lengang. Tepi kiri-kanan lung (kali kecil) disibak-sibak air musabab angin.
Angin menggigil hingga berasa es sampai di bawah ketiak perempuan perang sekalipun. Perempuan itu, memeluk buntelan pakaian demi segelintir hangat. Harusnya suaminya, melingkarkan lengan kekarnya ke bahu perempuan perang.
Tetapi tidaklah hal demikian terjadi. Bungkus pakaian saja dibiarkan dibawa istrinya yang sedang mengandung. Lelaki itu berjalan dua meter di depan perempuan perang. Sekalipun tidak menoleh ke belakang.
Perempuan perang memaksa sama cepat dengan gerak Hasan. Lekas sekali dikaitkan tangan dinginnya ke badan pria itu. Secepat peluk itu terjadi. Secepat itu pula peluk itu rubuh.
”Bang Hasan tidak mencintai adik lagi.”
Lelaki itu seperti biasa jika dihadapkan pertanyaan itu, akan bertindak seperti manusia malang yang sama sekali tidak dianugerahi suara oleh Tuhan.
Bisu. Dan tetap bisu.
”Mengapa Bang Hasan tidak ceraikan adik saja?”
Perempuan perang memilih memendekkan langkah. Membiarkan suaminya itu seperti dalam posisi pula. Berjarak meter darinya.
Kedinginan telah meleleh.
***
Perempuan perang pernah meminta cerai dua bulan silam. Tapi kuping Hasan seperti tidak pernah disinggahi pinta itu. Diam dan diam. Sehingga perempuan itu akhirnya menginsafi bahwa pinta itu tidak lulus.
Suatu sore, perempuan perang begitu melihat Hasan di hujung jalan yang juju ke rumah mereka, sengaja meremas jemari tangan Mahdi—bujang tiga puluh tahun yang belum juga menikah.
Tidak dilepas sampai ia yakin benar bahwa Hasan melihat perbuatan itu. Tapi lelaki itu tidak dengan jantan mendorong tubuh Mahdi hingga terpelanting ke ruangan jalanan. Sekedar melotot ke arahnya pun tidak.
Perempuan perang tahu, Hasan, lelaki yang menjadi suaminya itu tidak memiliki cinta lagi untuk dirinya. Dan ia tahu sekali apa biang dari segala itu. Tahu sekali perempuan perang.
Kehamilannya.
Janin yang kini tengah tumbuh berkembang di dalam perut perempuan itu.
Padahal sudah ia tempuh aneka kata untuk menjelaskan. Bahwa hamil itu bukan atas hendaknya.
Dan memang Hasan seolah mengerti. Tidak mengintrogasi macam-macam. Akan tetapi tidak lagi ada hubungan badan di malam-malam berhujan. Lelaki itu malam lebih memilih rebah di ruang sebelah kamar mereka yang kondisinya tidak lebih baik dari gudang.
Bahkan yang menyakitkan sekedar menatap hangat saja tiada lagi.
Tinggal perempuan perang yang kesepian. Kesepian jasad. Kesepian hati. Kesepian yang mencekam. Kesepian yang sebetulnya teramat ditakutinya.
***
Rupanya kedatangan mereka sudah ditunggu layak artis ibukota Desy Ratnasari yang dinanti para penggemarnya. Ramai berkumpul semua orang kampung di rumah Geuchik Harun (Kepala Desa Harun). Nama mereka didengung-dengung. Para perempuan menatap kasihan ke ceruk mata perempuan perang.
”Kita jangan ambil jalan besar.” Ucap Geuchik Harun.
Dan perjalanan malam dimulai. Meninggalkan kampung halaman. Hanya bintang beberapa yang menjadi benderang jalanan. Sebatas suluh api saja tidak boleh ada. Sebab pergi mereka, seperti maling yang mengendap-ngendap.
Jalanan tikus yang mereka lewati betul-betul gulita. Kiri-kanan adalah kebun kosong yang tumbuh liar semak belukar. Antara sebentar salak anjing dan salak lainnya di nun jauh. Tapak kaki ditahan sebisa mungkin agar tidak lahir bunyi besar. Sekali dua kali mereka harus melompat kecil sebab badan jalan telah ditiduri batang pohon lapuk..
Perempuan perang bersama para perempuan di baris tengah. Anak kecil seperti tidak ada di dalam barisan itu. Di baris depan dan belakang lelaki yang dibagi separuh-separuh.
Perjalanan masih panjang. Kata Geuchik, mereka akan ke Mesjid Kota Geudong. Dua puluh kilo berjarak dari kampung. Di tempat sana, mereka akan berkumpul dengan pengungsi dari kampung yang juga disilang merah aparat pemerintah.
Sambil kaki mengayun, pikir perempuan perang singgah ke bayangan hubungan badan bersama Hasan silam. Indah sekali. Dan jujur, perempuan itu merindui bisa melakukan kembali bersama Hasan.
Lalu tak dapat dicegah pikiran perempuan perang lari ke hari lain. Suatu senja berangin kencang. Ia tengah di beranda menampi beras. Letup-letup senjata. Merunduk di tanah. Ketika badan menegak kembali, ia laksana melihat hantu mengerikan di ambang pagar bambu rumahnya.
Lima pria bersenjata besar.
Diawali dengan introgasi tak masuk akal. Ini-itu yang kali ini benar tidak diketahui jawabannya. Satu pria kurang ajar terkekeh menatapnya. Kemudian diseret paksa ke kamar. Secara bergiliran satu persatu pria bersenjata itu masuk.
Cepat sekali jalan pikiran perempuan perang melintas-lintas. Baru ia terhentak ketika perempuan tua di samping mencolek pinggangnya. Dengan telunjuk bergetar mengacu ke hutan belukar yang samar kelihatan bergoyang-goyang .
”Mau kemana kalian? Kalian pemberontak ya?!
Bukan perkara sulit untuk mengetahui tubuh siapa di dalam hutan. Senter-senter besar bersinar bulan. Tubuh-tubuh tinggi telah berdiri congkak. Dengan sinar senter di arahkan ke mata rombongan silang bergnti.
Jawab Geuchik Harun dihadiahkan bentakan berikutnya. Beberapa lelaki terbata mencoba menguraikan siapa mereka, hendak ke mana tujuan, juga mendapat laku sama.
Keluarlah perempuan perang dari baris tengah. Telinga itu menangkap gumam ucap, ”ka matee geutanyoe... Ka matee geutanyoe (Sudah mati kita... Sudah mati kita.)” acap sekali dari mulut perempuan ketakutan.
Ia melewati beberapa lelaki tua yang meurateb (berzikir). Jelas perempuan itu menyimak badan Bang Saballah bergetar di balik seorang pria senja. Ketika berpasan dengan Hasan, ia melebarkan bibir. Lalu dengan berani bertatapan dengan laki bersuara bentak.
”Kalian boleh pergi. Asal perempuan ini tinggal bersama kami.”
Suara bisik-bisik dari mulut-mulut. Sementara semua mata beradu ke mata Hasan, bibir basah perempuan perang segaja melirik bergiliran ke mata pria-pria bersenjata itu. Melihat itu, nyaris meruah isi di dalam perut Hasan.
”Kalau tidak...”
Dua tangan pria tegap kembali mengokang-ngokang badan bedil.
Namun dalam batin perempuan perang gemuruh. Gelisah menanti apa jawaban suaminya Hasan.
Ingin sekali ia jikalau lelaki itu beringsut ke depan dengan muka merah padam. Menarik lengannya. Bila perlu memaki para pria bersenjata sebab telah meminta hal kurang ajar.
Bukan masalah setelah itu kokang senjata ditarik membabi-buta. Peluru timah menembus satu persatu tempurung kepala mereka.
Itu lebih baik menurutnya.
Kepala Hasan mengangguk. Perempuan perang menutup kecewa dengan sebuah sandiwara-- Tertawa besar hingga dada itu berayun-ayun. Tawa yang gatal akan sentuhan.
Hasan memilih memandangi langit.
Satu persatu dari rombongan hilang di tikungan gelap. Di antara mereka sempat menatap perempuan perang dengan perasaan yang susah ditafsirkan. Terakhir Hasan yang berpaling muka dengan menghembus napas.
Bersama perempuan perang enam lelaki menenggak air liur. Sedang Nurmala seperti kuntilanak di televisi, cekikikan mendayu-dayu. Tidak lama. Lalu mata perempuan itu hangat. Air mengalir dalam pekat.
Dimuat di Serambi Indonesia, 14 maret 2010
SILAM, buah pikiranku selalu ingati Ibu berwejang:
‘Jika rindu, gambar Ayah di pasir pesisir.. Biar rindu itulah berkelana...’
Pada mula aku geleng kepala. Kuajuk Ibu bohong demiku tiada terus rengek. Sehari di laut, aku tahu Ibu tak diciptakan Tuhan demi bohong. Kubawa Dek Nong serta. Di rumah, Dek Nong tak reda rusak kerja Ibu. Aku pikir, Ayahku di suatu tempat dan belum ingin pulang. Tapi Dek Nong kata, Ayah sudah di surga. Adik itu menangis.
Pada suatu matahari petang, kawan-kawan serta gambar Ayah. Kutahan tangis sambil hapus gambar-gambar itu. Itu Ayahku!
Tapi Ibu kata,”Biar saja...Biar saja Agam.”
Lalu aku tak pernah menangis lagi bila teman-teman melukis Ayah.
Kini aku belasan usia, Masyik sudah lelah suruhku ke sikula. Di sikula aku tidak boleh gambar-gambar. Aku telah jadi anak laot.
Pertama gambar Ayah. Ombak datang tiga kali ke daratan, Ayah sudah hidup di pasir.
Aku rindu Ibu. Tapi menggambar Ibu dengan pakai telekung buatku goyang-goyangkan kepala. Kemudian Dek Nong. Rambut adik itu kriwil-kriwil. Aku ingat-ingat senyum Dek Nong dan mulai menggambar.
Lepas itu, aku duduk di sela gambar. Berkisah dengan Ayah, Ibu, Dek Nong. Aku tertawa. Aku berlari ke dalam laut yang punya banyak ombak. Teman-temanku masih menggambar. Lukis mereka adalah Ayah, Mak dan adik-adik.
Cut Mala lukis Ayah, Ibu dan adik bayi. Kasyi melukis Ayah dan adik. Mita lukis paling banyak gambar, Ayah, Ibu, dua kakak perempuan, satu adik laki-laki. Putra hanya melukis Ayah saja.
Kemudian teman-teman susulku ke dalam laut. Kami berdiri ramai dan tantang matahari. Cut Mala berteriak, laut kembalikan Ibuku...Ombak memburu kami seperti bengis. Kami tergulung. Dalam ombak aku menangis.
Dimuat di Suara Karya 28/11/2009
Perempuan itu Keumala. Perempuan berbola mata biru dipadu-padan otak yang mampu menjawab segala hal rasa-serasanya. Dua modal yang membuat Keumala, seperti kristal bening yang mengeluarkan denting-denting halus. Keumala ratu di taman kembang. Ini hari terakhir wanita itu duduk di teras depan rumahnya-menanti kekasih. Besok tak akan lagi.
Yang memiliki harum menyegarkan terik siang. Usia belia, ikut memperdalam jikalau kembang itu punya magnet lain selain wajah ayu. Kumbang-kumbang gesit berterbangan di seputaran Keumala. Mengeluarkan harum-haruman.
Berharap Keumala akan terperangkap. Lantas mereka sehati dalam perahu bahagia.
Tapi Keumala bukan kembang yang mau manusia-manusia buruk akan memetik tubuhnya. Kemudian membiarkan layu di pinggiran kehidupan.
Maka perempuan itu, ketat menjaga keindahan mahkota. Duri-duri menancap bila ada kumbang yang ingin merampas makota itu. Apalagi secara paksa.
Ia berhati-hati. Lihai memilih. Di kumbang mana jangkar hati harus luruh.
Sebab kecewa itu beranak-sungai air mata. Hati sakit belum pernah ditemukan penawar sekalipun oleh pakar paling ahli.
"Kerja di mana?" tanya perempuan itu pada pemuda bermuka murung.
"Saya mengajar di SMP..."
Uh, Keumala menggeleng cepat. Kaki-kaki jenjangnya dihentak-hentak ke lantai. Kemudian berderet-deret repetan sepanjang jalanan semut.
Wajah pemuda murung makinlah masam. Lantas raib dari pandang Keumala. Menikung di jalanan panjang.
Kumbang lain bersorak riang.
Wajah-wajah memancarkkan cahaya bahagia. Sebab Keumala masih bisa direbuti. Kembali segala aroma menyengat disemprotkan. Harum budi luhur dipamerkan besar-besar. Demi tujuan jebakan.
Keumala di langit ke tujuh. Cekakan kadang lepas bila ia tengah sendiri di kamar. Kadang saja sebatas ringis kepuasan.
"Aku cantik. Aku penguasa lelaki." Begitu dan itu gumamannya.
Kumbang-kumbang tak pernah ia dengar mengeluarkan protes. Bahkan bermuka keberatan saja sekalipun tiada. Dengan sikap jual mahalnya tentu saja. Barangkali satu kesadaran telah tumbuh mengakar bahwa demi mendapat Keumala, pengorbanan curam terbentang.
Dan pun, Keumala kian saja lincah membaluti tubuhnya dengan wangi pesona.
Menjadikan pe-para kumbang serasa rela mati agar bisa mengecup madu sang kumbang.
Tapi hati Keumala belum jatuh. Dinding hati kokoh menjulang. Meski peluru rayuan bergodam-godam nyaris tiada reda. Semuanya tiada menggoda.
Seorang pemuda agak menarik di mata Keumala sebenarnya. Laki-laki bertubuh tegap dengan lesung pipi hangat. Pemuda itu pun berhasrat tulus untuk 'menseriusi' hubungan. Hati Keumala akan berwujud air mengalir.
Seolah kumbang itu lah penakluk seorang Keumala.
Namun pemuda itu tiba-tiba tak pernah datang lagi. Seolah raksasa maha besar telah melumat tubuh itu sehingga tak tersisa biar tulang-belulang sekalipun.
Keumala dalam hati sempat menunggu dan menanti. Dulu ia congkak tidak mau menyimpan nomor handphone sang pemuda. Harus si pemuda itu yang menghubungi dirinya! Keumala tidak berai air mata. Terlalu aneh rasanya seorang Keumala menangisi seorang pemuda yang tak kembali.
Sementara di ambang mata berjejer ratusan pemuda yang berhasrat memilikinya. Tinggal tunjuk, pemuda mana pun tergopoh.
Detik-detik berdetak dan pergi. Hari-hari panjang mengelupas juga seperti cat di rumah tua yang bersisik. Musim air hujan dari langit muncul dengan ritual tarian eksotis. Keumala masih Keumala sama. Belum memilih.
Kalaupun ada yang bertukar, mungkin paras itu kian meneteskan liur kumbang. Wajar, usia Keumala tepat di angka dua lima. Bukankah puncak kecantikan seorang wanita bernaung di bilangan itu?
* * *
Hari itu dua pemuda bertandang ke rumah Keumala di waktu yang hampir bersamaan. Bak ingin melamar pekerjaan, pakaian mereka rapi-jeli. Berdasi. Keumala terkekeh ria. Magnetnya masih berjalan sempurna.
Dengan pemuda pertama introgasi berlangsung kilat. Gajinya hanya dua juta perbulan. Pemuda kedua masuk gagah, tapi keluar dengan mata layu.
Keumala masih larut dalam mutiara pujaan penggemar-penggemarnya. Satu kumbang boleh kecewa atas sikapnya. Dan milih mundur dari persaingan.
Akan tetapi di belakang itu, puluhan- ratusan kumbang lain menghampiri. Jujur, sempat terbesit was-was. Apalagi usianya tak lagi belia.
Nyaris masuk di angka tiga. Dia mulai disergap takut kalau-kalau sebab sifat memilih yang berlebih, tak akan ada kumbang lagi yang mendekatin. Seumur-umur jadi perawan tua!
Namun khawatir Keumala tiada bukti. Di usia yang nyaris genap tiga puluh tahun. Kecantikannya masih mampu menangkap kumbang- kumbang. Walaupun tetap kata sama keluar.
Tepat di genap tiga puluh tahun, penantian kumbang-kumbang pengagum Keumala akhirnya terputus. Jangkar hati tlah turun di salah satu kumbang.
Adrian, kumbang itu berhasil meremukkan kekokohan dinding hati perempuan itu. Keumala tak mafmun. Mendadak saja rasa yang tak pernah dimiliki sebelumnya terkonstelasi bagai batu bata yang disusun.
Tinggi dan semakin tinggi. Kokoh dan kuat. Sepertinya badai saja tak kuasa mengapung perasaan itu.
Tubuh itu seolah menggelepar-gelepar laksana seekor ikan yang akan kehabisan oksigen. Maka angguk penuh tatkala Adrian mengucapkan lamaran.
Di mata Keumala, Adrian-lah yang lama tlah dinanti.
Tapi bahagia puncak belum bisa bermain-main di awan-awan perkawinan. Sekali ini, Keumala meleleh air mata. Pria itu harus melanjutkan studi keluar negeri.Empat tahun.
Adrian tergagap melihat pemandangan memilukan.
Adukan bingung melayang. Bujuk cepat dibungkus dalam bingkai-bingkai nian elok. Dan bahu Keumala tak lagi berguncang-guncang.
Ia menyeka air matanya. Meski lantun isak sekali-dua kali belum raib. Keumala menganggukan kepala. Keumala telah dilanda mabuk kepayang.Sebelum berangkat ke negeri seberang, Ardian menyebutkan tanggal sekian, bulan sekian, dan tahun sekian ia akan kembali.
Keumala mencatat angka bersejarah itu di buku hariannya.
Akhirnya Ardian pergi dengan bola air Keumala. Setelah berjanji akan berkomunikasi lewat HP dan email. Betul saja, Ardian pergi.
Dan Keumala mulai menanti hingga empat tahun.
Tapi Ardian ingkar janji. Seminggu setelah kepergian, Keumala menunggu telpon dari pria itu. Sampai sebulan tak juga telponnya berdering. Ia ingin menghubungi Ardian. Sia belaka. Jarak jauh telah membuat nomor itu tak bisa dihubungi.
Lantas Keumala mulai mengirim email cinta.
Setahun tak juga dibalas sekalipun. Hati Keumala dilanda cemas. Sering kali ia meleleh air mata.
Kumbang satu-satu masih berusaha menggoda. Tapi hati Keumala telah keras batu untuk pria selain Ardian.
* * *
Bunga kamboja di lahan pemakaman luruh dan tumbuh selang ganti.
Bunga-bunga itu menumpuk jalan kecil sehingga pembesuk agak kepayahan mengarah ke nisan yang diingin.
Beberapa saat lalu petugas lahan itu telah pergi ke langit sehingga tanah itu kehilangan bersih.Empat tahun meski bergerak selaksa siput datang juga.
Hari ini sesuai janji, Adrian akan kembali. Berulang kali Keumala mencocokkan angka di buku hariannya dengan angka kalender.
Langkah-langkah kijang di dada Keumala. Semalam suntuk tak bisa dipejam mata. Menyambut sang kekasih hati sengaja dikenakan gaun sutra biru yang jauh hari telah disetrika rapi. Perempuan itu tak ubah laksana bidadari.
Tapi hari itu adalah hari berkabung. Keumala melihat gagak hitam berkotek ribut di bumbungan rumahnya.
Ardian tak kunjung datang. Padahal sudah seharian penungguan itu merayap.
Besok hari perempuan itu, Keumala, masih dalam penantian. Menghibur pikirannya dengan ragam mungkin. Mungkin ada gangguan di airport. Mungkin Ardian sengaja membuat hatinya bertalu menunggu. Mungkin...Mungkin....
Seminggu.
Dua minggu. Sebulan. Berbulan-bulan. Roda waktu telah berputar-putar demikian hebat. Tahun-tahun berkeringat. Kamboja di tanah kuburan telah kembali sampai pada kala berbunga semarak.
Keumala masih gelisah menanti. Ardian tak kunjung hadir. Ditampik ulur tangan kumbang liar yang ingin menghibur. Hati Keumala tak mampu pindah ke lain hati.Keumala menunggu. Sampai Ardian kembali..
* * *
Keumala menarik napas panjang sekali. Napas itu napas kesusahan. Mata itu layu menatap surat biru yang tergeletak di meja depannya. Surat yang tiga jam lalu diantar bapak pos ke rumahnya.
Maaf, aku betul-betul lupa bahwa aku pernah berjanji untuk menikahi kamu.
Maaf aku lupa sekali, bahkan teringat nama mu saja, baru beberapa hari yang lalu. Saat itu aku iseng-iseng mengorek buku-buku lamaku, dan kebetulan aku menemukan kembali diary lamaku.
Tertera namaku di sana lengkap dengan janji kita.
Maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku yakin, sekarang kamu sudah menjadi seorang nenek. Berapa cucumu? Siapa lelaki yang beruntung mendapatkan dirimu? Pasti laki-laki itu teramat senang ya? Oh ya, cucuku sudah dua belas lho! Enak ya jadi kakek? Jangan lupa dibalas ya.
Tertanda
Adrian
Keumala bangun dari duduk panjangnya. Lalu kaki itu melangkah ke dalam rumah senyap. Sebuah Penantian telah berakhir. Kekasihnya tak kembali. ***
Dimuat di Suara Pembaruan 05/07/2009kali
Mengapa tak saja angin pantai yang membunuh? Mengapa tiada juga petir kesepian yang menarik lembaran-lembaran nyawa?
Mengapa musti air yang menjadi makhluk Malaikat Maut Izrail?
Aku sukai air. Air seumpama bayi bidadari yang tengah mengikat mimpi di jendela-jendela langit. Berkulit mengesankan. Miliki harum kasturi menghanyutkan.
Aku sukai air. Kemudian air mencurah dari atap-atap langit. Melalui atap-atap rumbia berenang-renang di tanah daratan. Bernyanyi-nyanyi di tanah sawah bersama bocah-bocah petani.
***
Aku idam sekali rumah kayu yang punyai pilar-pilar gagah. Dinding-dinding rumah penuh dengan tulisan kaligrafi mengesankan. Rumah itu rumah idaman untuk orang-orang yang tergila-gila akan kenangan pahlawan bangsa.
Memasak di rumah dapur1. dua jendela--hanya cukup untuk mengisi setengah badan di sisi barat dan sisi timur. Jendela-jendela itu akan beri sinar matahari untuk rumah. Menyimpan dan mengambil padi di lumbung padi.
Anak-anak akan riuh bermain kelereng di bawah rumah. Sebagian mempermainkan jingki penumbuk padi yang sebenarnya tidak boleh dimain-mainkan. Sebagian berputar-putar di pilar-pilar kokoh rumah. Sisanya mungkin akan bergelayut di cabang-cabang delima demi dapati buah yang masak.
Rumoh Aceh. Rumah manyang (tinggi) Aceh. Begitulah namanya.
Tapi di mana kini?
Petang kemarin, Sakdiah datang ke rumah bantuan kami yang gersang. Segersang wajah mukaku. Matahari masih merdeka--meski petang. Sinarnya menyengat sebab tiada badan pohon menghalau cahaya itu agar kembali ke awan langit.
Tangan kiri Sakdiah menjinjing rantang yang mengeluarkan harum.
Berbinar sakdiah berkata,”Kuah pliek2 ini aku bikin sendiri. Tidak pedas biar kamu suka, Fauziah.”
Ia amati garis mukaku yang tidak bersemengat.
Mengapa masih hidup dengan kenangan buruk Fauziah?
Sakdiah, baru empat tahun, mengapa telah lupakan kenangan?
Ia menggulung-gulungku Sakdiah--Kamu juga kan? Aku dibawa ke samudera lepas. Ia mengkaramkan Mak, abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah manyang idaman kita.
“Ah, Fauziah..”
Hingga kapanpun aku tak tahu harus menjawab apa. Mengapa masih hidup dengan kenangan buruk, Fauziah?
Lupakan kenangan buruk fauziah. Empat tahun bukan waktu yang pelan untuk melupakan.
Sakdiah. Sakdiah. Ini saja yang kau ulang-ulang.
“Laki-laki pendamping hidup akan buat kau lupakan kenangan buruk, fauziah!”
Sakdiah pulang.
Laki-laki pendamping hidup? Seperti Mala yang berbahagia?
Hujan. Air dari langit mencurah. Mengapa aku tak sadar? Melengking aku memanggil masyik (nenek).
Masyik berjalan lahan-perlahan seolah tidak tengah mengalami hal parah di luar. “Hujan adalah anugerah Fauziah. Air hujan akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.”
“Hujan ini raya masyik,” aku berlari ke muka jendela. Aku menunjuk biji-biji hujan yang seperti terpeleset dari badan langit.
Hujan akan semakin raya masyik. Hujan ini akan lahirkan samudera. Lalu ombak besar akan datang. Menggulung-gulung kita.
Danau mataku telah banyak memenjarakan bintang.
Suara bahagia anak-anak lahir di jalanan. Anak-anak itu girang kejar-mengejar.
“Lihat mereka yang tergila-gila dengan hujan fauziah. Hujan-hujan ini tidak akan menggulung kita. Hujan ini adalah rahmat.”
“Suruh anak-anak itu pulang masyik! Sebentar lagi hujan ini akan memanggil gelombang besar..”
“Oiii.. Pulang cepat!!”
“Po (Ya) Allah rabbi, kapan derita ini aka
Aku sukai hujan. Dulu. Aku sukai laut. Dulu. Aku jatuh cinta dengan air sumur. Dulu. Aku tergila dengan jernihnya air sungai. Dulu. Diam-diam aku juga masih simpan ingin untuk mencebur badan ke kali? Dulu.
Dulu. Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.
***
Yang kau butuh cuma laki-laki pendamping hidup untuk lupakan kenangan buruk, fauziah.
Terkenang-kenang aku dengan ucapan Sakdiah.
Aku bergumam, laki-laki? Siapa dia gerangan?
Suara masyik merdu mengaji. Hujan petang telah pergi. Tapi sepertinya akan datang lagi--yang membuatku berjaga. Sebab angin begitu hilir-mudik di sekitar rumah kami.
Aku tidak boleh lengah. Air tak boleh kalahkan aku lagi!
Tapi malam larut telah kalahkan kekuatan mataku. Dan malam itu hujan kembali mencurah. Lebih deras dari hujan petang.
***
Dengan Manan, pria tampan itu, diam-diam aku simpan suka. Tak pernah berani aku sebarkan. Bahkan untuk Manan yang kusukai itu. Dulu. Sebelum gelombang besar itu datang dan membuat karam.
Ketika pagi ini, angin begitu sejuk menerpa badan, hati siapa yang tidak terkejut ketika temukan yang mengetuk-ngetuk pintu adalah Manan.
Aku merasa mukaku telah merah padam seketika.
Masyik tergopoh menyuruh Manan masuk. Aku temani Manan duduk di ruang depan sementara masyik akan membuat kopi. Diam begitu diam menguasai setiap jarak kami.
“Saya baru pulang dari kota semalam masyik,”
Baru ketika masyik telah menghidangkan kopi untuk Manan, diam itu telah pergi. Meski aku hanya menjadi pendengar yang budiman. Ketika masyik kembali harus pergi, diam kembali menjadi pembicaraan kami.
Kata Sakdiah muka wajahku tak terlalu layu lagi.
“Manan memegang tanganku Sakdiah,”
Wajah Sakdiah diliputi kaget. Kemudian ujarnya pelan,”betulkan kataku, laki-laki pendampiang akan buat kau lupakan kenangan buruk.”
Telunjuk sakdiah mengarah ke jalanan. Manan tersenyum di atas sepeda motornya.
Ia membawaku jalan-jalan dengan sepeda motornya. Entahlah, atau ini hanya sekedar perasaan sesaat, laki-laki pendamping akan buatku lupakan segala kenangan buruk.
Di antara deru sepeda motor Manan berkata,”aku ingin menikahimu Fauziah…”
Terpaksa kupeluk pinggang Manan agar tubuhku tak terjerambab.
***
Petang ini aneh, Manan mengikat mataku dengan kain hitam berukuran kecil. Katanya, ia akan bawa aku ke suatu tempat
Manan mengunjungiku setiap petang. Dengan kunjungan itu, petang-petangku menjadi bunga yang jatuh cinta dengan sang kumbang.
Kurasa betul kini, manna telah buatku lupa akan segala kenangan buruk. Kurasa kini, aku bisa lagi mencintai air hujan seperti dulu.
Tapi hujan sama sekali tak lagi tercurah.
Kemudian sepeda motor mulai menderu. Aku tidak tahu menahu ke mana akan dibawa Manan. Sudah kucoba membuka mata, tapi hanya gelap saja yang kudapati dibalik kain hitam itu.
Lama perjalanan gelap itu. Lama sekali sampai hatiku begitu tidak sabar ingin tahu. sampai Manan menghentikan laju sepeda motornya. Telingaku menangkap bunyi-bunyi yang menghempas-hempas. Di mana ini? Angin pun begitu kuat menampar-nampar. Di mana ini?
Manan membuka kain hitam yang menyiksa penglihatanku.
Kurasa mata laut lepas itu akan menerkamku! Kurasa nyawaku tengah ditarik si Malaikat Maut.
Ia menggulung-gulungku. Menghantam kepalaku. Menganyutkan aku hingga timbul-tenggelam. Aku dibawa ke samudera lepas. Ia mengkaramkan Mak, abi dan Dek Nong. Ia menyeret rumah manyang idaman.
“Fauziaahhh….” .***
Dimuat di Batam Pos 18/01/2009
Pagi rumah sakit terlalu riuh dengan korban kecelakaan. Satu korban sekarat, sisa meninggal di tempat terjadi. Satu pick up memelanting pohon tepi raya hingga terjungkang balik ke tebing dalam.
Di saat para dokter berteriak-teriak garang agar lekas memasukkan korban ke dalam ruang operasi sentara mengambil kesempatan penyelematan seonggok nyawa di hujung tanduk, ia malah tengah menyeduh kopi, menyeruput dalam asap-asap yang berkepul—dengan gumaman kenikmatan—ia sangat tergila-gila yang bernama kopi. Terus meneguk genap perasaan berselip obrolan masa depan dengan masyik.
(minggu tak jatah di rumah sakit. Minggu-senin senggang hari merenggang penat. Di rumah. Di tanah sawah. Bercengkrama dengan sesama gadis di bawah meunasah gampong. Terkadang mencari sesak di peukan ramai.)
Ia pun bersama masyik1 melaju ke tanah sawah setelah berkopi. Tanah sawah sedang menghampar keindahan nian elok. Padi menguning. Pipit berkoloni-koloni mengepak sayap. Pematang riuh suara pemilik menghalau mangsa-an burung-burung. Sentara burung-burung bergerombol itu, mencuri-curi enap dalam lebat batang-batang.
Dalam hati ia mengungkap takjub indah panorama. Ia terlarung ketentraman tiada rupa. Potong senyum untuk siapa saja yang kebetulan melewat atawa menyapa.
Rentang waktu sama, di ruang rumah sakit, hawa-hawa ketegangan membulir. Detik yang berdetak menebar jarum-jarum kematian. Tiga dokter dikawani dua suster mengelilingi satu korban tak sadar diri.
Hanya degap jantung pelan. Baju loreng-loreng mendarah pekat. Mulut menganga-kan deretan gigi yang telah rentas. Dua bola mata terkatup semi rapat. Di hujung bawah, dua anak kaki puntung.
Kepala dokter yang paling senior mengangguk sebagai sebuah tanda. Lantas pisau-pisau, gunting-gunting bermula menari-nari di atas satu tubuh. Tiada bicara. Hanya gerak tubuh sebagai penjelas apa yang diingin.
Berbilang jam, ketiga dokter keluar dengan tampang semrawut. Keringat menempel di kening. Bagian belakang kemeja sembab serua membentuk satu pulau. Ketiganya berpisah dalam lorong berbeda.
Dua suster membereskan perkakas operasi. Tiada bercakap. Ligat melakukan pekerjaan mereka. Sekali-kali melirik pasien yang persis patung dengan penjuru mata.
Di pasar ikan ia tengah menawar harga. Peluh meleleh sebab angin terhalang banyak tubuh di tempat itu. Ba’da itu mengarah ke pasar sayur-mayur. Kembali peluh meleleh. Dengan punggung tangan ia menyeka seala kadar.
Pulang menumpang satu RBT2 orang sekampung. Setengah perjalanan, tiba-tiba saja—entah mengapa, pikirannya terloncat.
(Umurnya dua lima sudah. Ia belum menikah. Jangankah itu, pikiran untuk itu saja sangat tidak acap.)
Setelah itu ia senyum-senyum sendiri.
Malam, seorang perempuan baya yang dipeluk satu pemuda tanggung sudah menangis raya begitu turun dari sebuah mini bus. Mata perempuan itu bengkak. Di mata pemuda tanggung air mata tinggal bekas.
Kata si sopir, inilah tempat juju mereka. Dua anak-beranak itu tergesa bergerak masuk.
(Mereka datang dari tanah jawa. Dengan pesawat baru tiba petang tadi di bandara Blang Bintang. Lalu menumpang mini bus L-300 bertujuan Lhokseumawe. Tujuan tepatnya, Rumah Sakit Umum Lhokseumawe.)
Di sepanjang halaman pedagang eceran menjajakan rokok, kacang goreng dan aqua gelas. Lampu berkerlap-kerlip sehingga kelihatan benderang nyaris seluruh bangunan putih itu.
Perempuan itu masih saja menangis raya. Maka mereka dikerubungi orang ramai musabab begitu menarik minat.
Putra perempuan itu bercerita dengan suara tersendat-sendat. Dengan menyeka air mata yang mendadak saja berinai kembali.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!
(Rupanya dua anak-beranak itu adalah istri dan anak dari laki-laki yang dioperasi hari tadi.)
Seorang perawat menghampiri kumpul ramai itu. Sang pemuda tanggung mengulang cerita yang sama kepada perawat tersebut.
: Ayah saya seorang tentara yang ditugaskan di Aceh. Tadi pagi, kami mendapat kabar duka, mobil yang ditumpangi ayah saya masuk ke jurang. Dan dari informasi yang dapat, kondisi ayah saya kritis. Kami pun memutuskan untuk segera ke sini!
Sedangkan perempuan paruh baya makin erat memeluk tubuh putranya guna menopang tubuhnya yang tergungang-guncang.
Lalu keduanya mengikuti ke mana saja kaki perawat menjangkah. Orang-orang berkerumun tadi sudah pecah. Para pedagang enceran kembali berkeliling dengan teriakan khas mereka.
Di lorong-lorong rumah sakit, tetap saja perempuan baya itu mengundang minat. Sebab tak reda menangis raya. Para pasien yang sudah mulai sehat, tak tinggal mencelinguk kepala lewat muka pintu karena dibintik penasaran. Para pengunjung yang sehat bugar apalagi. Ragam komentar berdesis.
Sang perawat yang berada beberapa meter di depan mereka meletakkan telunjuk di tengah bibir.
(Entah apa maksud suster tersebut.).
Jadilah perempuan baya itu dengan pemuda tanggung menjadi sorotan tiap pasang mata. Mata-mata itu baru lepas ketika dua tubuh itu telah raib ditelan tikungan
Tiba di tempat tujuan,
( tempat itu adalah ruang di mana suami atau ayah mereka dirawat),
Si perempuan paruh baya tak tahan untuk tak menjerit melengking ketika telunjuk suster mengarah ke dalam ruangan.
(Satu lengkingan yang memerih hati.)
Kemudian irama tangis mendayu-dayu. Sang anak kian mendekap erat badan sang ibu. Air mata tumpah ruah dari mata keduanya. Suster membuka pintu ruangan. Terburu-buru perempuan baya menyongsong. Diikuti dengan sang anak.
Perempuan itu bersimpuh di sisi kanan ranjang besi. Ia memegang selang-selang cairan yang terhubung dengan pergelangan tangan suaminya. Lalu meremas-remas jemari yang sama sekali tak bergeming. Di raba jantung, berdegup dirasa, namun pelan sekali.
Sang anak bersimpuh di sisi kiri ranjang. Lekat menyimak rambut bergelombang-gelombang lebat sosok kaku di hadapan. Lantas tertarik menggesek dua codet di pipi kiri dan kanan muka ayahnya.
(Ia ingat sekali, dua codet itulah penanda termudah untuk menandakan ayahnya.)
Seraya air mata yang deras saja.
(Ia mengenang haru di waktu kebersamaan sang ayah dulunya.)
Suster yang mengantar mereka keluar dari ruangan sarat air mata itu.
Pagi di rumah, selepas sembahyang subuh, ia tercenung sendiri. Mendadak saja ia tereka ingatan mendiang mak dan ayahnya.
( Keduanya ditembak mati di depan mata. Ia bersumpah kuat untuk menuntut balas atas pembunuhan itu. Tapi sayang, ia mencari-cari, pembunuh itu seolah telah ditelan bumi.)
Namun ia tidak mungkin akan melupa potret sang pembunuh itu. Terus ia hafal dengan rambut bergelombang-gelombang lebat. Persis diingat codet kiri-kanan di pipi itu.***
Dimuat di Batam Pos 11/30/2008
Harusnya, sudah tiba waktunya untuk menambah sepuluh atau lima belas kursi lagi di warung mereka. Sayang para pembeli, kebanyakan terpaksa harus mengantri tempat duduk. Apalagi jelang siang yang memang ramai-ramaiya.
“Apa? Menambah kursi? Berapa uang lagi yang harus kita keluarkan?” Tukik Jeha setajam elang yang menggondol mangsa.
“Tapi dengan itu, kita juga akan mendapatkan uang lebih baik lagi,”
Sepasang suami-istri memang pernah bermufakat untuk membeli tambahan kursi.
”Kamu sudah gila ya, Bram? Mendapatkan uang?!” Bola mata Jeha akan loncat dari sarung mata.
”Yang ada uang kita malah keluar! Bukannya masuk! Dari mana sih terbesit ide sinting itu?”
Mulut Bram terkikik sembari bergumam kecerdasan sang istri. Sementara Jeha menghirup lega.
”Biar begini saja. Toh para pelanggan kita tidak keberatan,”
Pembicaraan itu tutup buku.
***
Hari itu sekitaran jam tiga seorang lelaki berdasi corak coklat mampir ke warung sepasang suami-istri itu. Jeha dan Bram yang tengah mencincang sayuran di belakang, tergesa ke depan.
Setelah meletakkan pesanan sang lelaki itu, Jeha kembali ke belakang menuntas pekerjaan. Sementara Bram mengobrol ala kadar dengan pria itu.
”Kerja di mana, Dik?” Braham mencoba basa-basi. Dari kulit muka, Bram tahu jikalau sosok di depannya itu jauh lebih muda dari dirinya.
”Di kantor pajak pak!” sahut lelaki itu yang sepertinya lahap sekali mengunyah dengan berlauk ikan bakar.
Air liur Bram berguncang-guncang. Sudah lama ia idam ikan bakar. Tapi istrinya selalu memelototkan mata api ke arahnya. Namun betul juga laku istrinya bila dipikir berat, jika ia turuti nafsu, pasti tak butuh waktu lama warung nasi mereka harus gulung tikar.
”Pasti banyak uang, ya?” sambung Bram di sela senyum simpul.
”Ah biasa saja lah, Pak. Paling cukup untuk sehari-hari saja,” jawab lelaki muda dengan mulut penuh.
Dua lelaki itu terlibat obrolan ala kadar sampai lelaki itu mencuci tangannya bersih.
Mata Bram melotot begitu melihat masih tersisa seper empat ikan di piring sang lelaki di depannya. Bila tidak dikuasai malu, tentu saja akan dilumat lekas ikan sisa itu.
Lelaki itu mengeluarkan suara kekeyangan halu-lalang. Tangan kanannya tampak sibuk meraba-raba saku celananya.
”Bapak merokok?”
Rupanya sang lelaki muda sedang mencari bungkusan rokok..
Bram menggeleng.
”Haha... Bagus Pak... Saya suka orang seperti Bapak. Orang yang sangat melindungi kesehatan... Saya sudah tahu sih kalau rokok itu merusak kesehatan. Tapi mau gimana lagi ya? Sudah kecanduan Pak!”
Ia mengakhiri omongan panjang dengan sebuah cekakakan.
Bram yang sedari tadi sibuk geleng-geleng kepala dengan mata sekilas-sekilas mengintip ke ikan bakar sisa bakar seper empat itu.
”Bukan gitu dik...Biar hemat, hihi....” Ujar Bram ganti cekikikan meski malu-malu.
Cekikikan lelaki itu muda padam laksana lilin yang diguyur angin.
”Berarti Bapak mau merokok dong!” tapi tak lama ketakjuban si lelaku muda sirna.
”Gimana ya? Habisnya, sudah lama tidak merokok,”
”Kalau sebungkus...” lelaki muda sengaja memotong omongannya sembari mengangkart bungkus rokok setinggi hidungnya. Di hadapannya seolah sedang duduk makhluk unik dari era purba kala.
”Ya,” Sela Bram. Jam-jam begini warung memang jatah sepi. Jadi bebas bagi lelaki itu untuk santai-santai sejenak. Istrinya pun tidk cerewet melihatnya mengobrol saja.
”Saya berikan untuk Bapak,” bertabuh-tabuh dada Bram mendengar itu.
”Bapak mau beli berapa?”
Padahal sang lelaki muda masih belum mengutuhkan kalimat.
”Ya... Saya kirain...” Bram tak dapat menyembunyikan kecewanya. Sedangkan si lelaki muda tergelak geli.
”Bercanda pak! Bapak mau kalau rokok ini saya berikan untuk Bapak?”” tiba-tiba raut lelaki muda berganti serius.
”Mau...” Tingkah Bram seperti seorang cilik yang diberikan permen kesenangan.
”Bapak mau merokok?” sepertinya lelaki muda menyangsikan jawaban Bram barusan. Namun anggukan berkali-kali kepala Bram, membuat sangsi itu hilang.
”E...E...” Namun Bram masih menyimpan ganjil di dalam hati. Terlebih ketika melihat lelaki muda berkemas beranjak.
”Kenapa pak?”
”E... Tapi adik tetp akan membayar uang nasi barusan, kan?' setelah mengucap kalimat itu, ruang dada Bram lega bukan kepalang.
Kali ini meledak tawa si lelaki muda hingga Jeha yang larut di belakang, terburu menolehkan pendang ke depan.
”Iyalah pak... Rokok ini tidak ada hubungannya dengan nasi. Ini hadiah saya buat Bapak! Gratis! Tis-tis! Meski tidak lagi terkakak-kakak, lelaki muda belum bisa menghilangkan kegeliannya.
”O.. Terima kasih kalau begitu. Adik baik sekali. Pasti Tuhan akan merahmati orang baik seperti adik ini,”
Rokok itu berpindah tangan. Bram tak lekang menimang-nimang bungkusan itu. Sejenak ia melupakan sama sekali tentang ikan bakar sisa.
Sepulangnya lelaki baik hati itu, Bram berlari girang ke dapur.
”Hari ini memang hari baikku sayang....” Seru Bram tak reda-reda.
”Kamu gila ya Bram? Menghambur uang untuk beli rokok kamu sebut hari baik? Jatah makan malam aku tahan sebagai gantinya!” kulit muka Jeha keras melihat apa yang ditampakkan Bram.
”Dengar dulu sayang. Aku tidak membeli rokok ini, tapi pria muda yang makan barusan, menghadiahkan rokok ini buatku,”
Wajah keras Jeha mengendur lamat-lamat. Bayang-bayang pundi yang tadi ia bayangkan masuk ke saku kedai sebelah, ternyata tidak kemana.
”Kamu mencari apa, Bram?” tanyanya lalu yang melihat Bram bak gasing putar dari pojokan satu ke pojokan lain.
”Korek. Kamu tahu korek di mana, sayang?” Begitu senangnya Bram sehingga selalu memanggil Jeha dengan sayang.
”Untuk apa?' seru Jeha tajam. Sebanarnya ia sudah tahu untuk apa suaminya itu menanyakan korek. Dan itu tidak boleh terjadi!
”Kamu betul-betul sudah gila Bram!” cepat Jeha bangun dan merebut bungkusan rokok itu dari tangan Bram.
”Kamu ingin membakar rokok ini, kan?'
Bram terpaksa menutup telinganya. Jerit istrinya persis kuntilanak yang melonglong ketika tengah mengamuk.
”Tidak ada yang salah kan, sayang? Toh, rokok dihadiahkan orang kepadaku,” namun Bram merasakan tidak ada yang salah pada dirinya.
”Tidak salah?”
Sungguh, mata Jeha jika dilihat anak-anak, niscaya akan membuat mereka tunggang-langgang.
”Terus setelah roko ini habis kamu bakar, kamu akan membakar apa lagi,hah?”
”Aku...Ee...Aku...”
Bram mulai paham ke mana arah bicara istrinya.
”Kamu mau bilang, 'O sayang, setelah rokok ini habis, ya sudah. Aku tak akan menghabiskan uang kita untuk membeli rokok,'. Begitu, kan?”
”Bukan begitu sayang...Aku...”
”Aku tidak percaya Bram! Rokok itu men-candukan!” Tangan Jeha meletakkan kembali rokok itu di dekat sayur yang belum habis dicincang.
Bram seolah tersadar bahwa baru saja ia nyaris melakukan kesalahan besar.
”Kerjaku jadi terbengkalai gara-gara rokok sialan!” maki Jeha entah untuk siapa.
”Mau kau apakah rokok itu?” Predeksi Jeha salah. Diam-diam tangan Bram sudah menjawil bungkusan itu.
”Tenang saja sayang. Aku tidak akan pernah membakar rokok ini. Lebih baik kukembalikan saja dari pada terkenang-kenang terus. Besok mungkin laki-laki itu akan ke sini lagi....”
Kalimat Bram belum usai.
”Braaamm...” Bila bisa pingsan, tentu saja Jeha akan memilih pingsan dari pada melihat ketololan suminya.
”Ya,” sedangkan Bram yang tidak tahu-menahu dengan musabab marah sang istri, menoeh bermekar stu senyum.
”Akan kugorok lehermu jika rokok itu sampai kau kembalikan. Kau betul-betul lelaki goblok Bram!
Jeha, perempuan itu dianugrahi kecepatan kilat. Dalam bilang menit, rokok itu sudah dimasukkan ke balik kutangnya.
”Biar saja kujual saja ke kedai sebelah nanti sore. Pasti mereka mau, haha...”
”Tak salah aku menikahimu dulu, haha...”
Sepasang suami istri itu cekikikan serempak. Tapi mendadak saja Bram teringat dengan ikan bakar sisa. Seketika air liur memenuhi rongga mulutnya.
”Betul-betul mujur hariku hari ini sayang... Tidak dapat rokok. Aku dapat ini...” Seru Bram yang sudah di depan iakn bakar itu. Dimakan cepat ikan sisa itu. Dan kembali menyongsong istrinya di belakang.
”Oh begitu ya kalau dapat makan enak?” muka Jeha nanar begitu kunyahan Bram begitu nikmat.
”kamu mau, sayang?”
Tidak menjawab, Jeha dengan tampang rakusnya merebut piring di tangan suaminya.
”Kapan kita bisa makan enak seperti ini ya, sayang?” padahal Bram baru mencicip sedikit ikan bakar itu.
”Nanti lah kalau kita sudah kaya.” jawab Jeha yang tenggelam dengan ikan bakar itu.
”Kapan kita kaya?”
”Makanya kita harus hemat Bram! Hemat!” ***
Subscribe to NewsLetter
Get the latest updates via EmailService provided by FeedBurner
Arsip
Label
- FLP Aceh (14)
- FLP Amerika (2)
- FLP Bandung (8)
- FLP DKI (27)
- FLP Depok (41)
- FLP Lampung (1)
- FLP Lampung Timur (3)
- FLP Lubuklinggau (58)
- FLP Padang (4)
- FLP Pekalongan (2)
- FLP Sumbar (12)
- K: Batam Pos (5)
- K: Berita Pagi (2)
- K: Femina (1)
- K: Jawa Pos (14)
- K: Jurnal Bogor (6)
- K: Kedaulatan Rakyat (1)
- K: Kompas (8)
- K: Lampung Post (9)
- K: Media Indonesia (4)
- K: Nova (2)
- K: Padang Ekspres (3)
- K: Pikiran Rakyat (5)
- K: Republika (35)
- K: Riau Pos (5)
- K: Seputar Indonesia (2)
- K: Sriwijaya Post (1)
- K: Suara Karya (10)
- K: Suara Merdeka (9)
- K: Suara Pembaruan (22)
- K: Surabaya Post (12)
- K: The Jakarta Post (7)
- K: Tribun Jakarta (1)
- M: Gong (1)
- M: Sabili (3)
